Siang telah menggulung malam. Pancaran cahaya hangat sang mentari begitu terasa pagi ini. Akhir pekan memang selalu dinanti. Hah. Sungguh bahagianya menikmati sabtu yang santai dan jauh dari rutinitas kuliah. Tidak ada mandi pagi, tidak ada menggosok pakaian dengan terburu-buru seperti hari lainnya. Yang ada hanya sya..la…la…la…la…la…la… Menonton TV sepertinya menjadi pilihan yang tepat kali ini. Segera saja remot melayang ke tanganku. Belum lama mencari channel yang menarik, tiba-tiba saja pintu kamar pondokanku digedor-gedor. Di hari sabtu seperti ini, siapa lagi yang melakukan hal seperti itu kalau bukan dia. Yah. Q-cook. Hah. Anak itu. Belakangan ia sangat rajin menghabiskan hari sabtunya dengan jogging keliling kampus Unhas setelah berganti almamater hijau. Tidak lupa ia mampir ke Pondok Putih, pondokan kami (aku, Oki, dan Nahli). Kawan-kawan yang kukenal sejak SMA ini memang selalu menjaga kontak. Meski si Q-cook bukan lagi warga Unhas, tapi toh dia masih saja berlalu l...
Langit tampak murka. Ia menumpahkan bulir-bulir bening bernama hujan dari awan yang sedari tadi kelam. Aku masih bergeming di tempat ini, di halte ini. Berlindung dari tajamnya seranganmu, hujan. Pikiranku seketika dibanjiri oleh hujan. Dulu aku teramat mencintai hujan. Saat hujan beradu dengan atap, nada-nada yang dihasilkannya sangatlah menenangkan dan terasa damai. Sesaat setelah hujan, maka aku bisa menghirup aroma tanah basah dan rumput basah yang bagai menghipnotisku. Banyak energi positif yang terhantar dalam tubuh ini saat cairan bening itu menjatuhkan diri. Entah apa yang membuatku merasakan hal itu. Yang kutahu, hujan seperti memberi magis. Aku banyak menyukaimu hujan, tapi itu dulu. Kini kau mulai menjelma menjadi sebuah ketakutan. Sesuatu yang tak lagi kudamba kedatangannya. Sesuatu yang membuatku bahkan banyak orang merasa kau akan membawa pedih. Aku tahu, ini bukan salahmu. Tentu kau tak tahu apa-apa. Kau hanya diutus untuk turun membasahi jagad raya ini dengan m...
Enam puluh delapan tahun Indonesia mencecap kemerdekaan. Itu artinya sudah lebih dari setengah abad Indonesia bebas dari penjajahan kolonial. Memikirkan hal itu membuatku melambung ke masa-masa sulit warga Indonesia ketika harus memperjuangkan kemerdekaannya. Aku bisa membayangkan kondisi mereka melalui buku-buku sejarah yang kubaca sejak belajar di Sekolah Dasar. Memang miris kalau membayangkan betapa kerasnya penderitaan nenek-nenek kita di masa itu. Tapi aku sangat kagum akan gigihnya perjuangan mereka dalam merampas dan mempertahankan kemerdekaan. Sudah menjadi ritual wajib setiap tahunnya merayakan upacara 17-an di seluruh pelosok tanah air. Tidak terkecuali di kecamatanku, kecamatan Lembang –kecamatan yang berada di sebuah kabupaten yang sangat kaya akan sumber daya alamnya yang bernama Pinrang yang merupakan bagian dari daerah Sulawesi Selatan. Sebuah kebiasaan yang sejak aku kecil masih dijaga hingga saat ini ialah menyambut perayaan 17 Agustus. Selama satu mi...